Apa itu Probiotik?

Apa yang Anda tahu tentang probiotik?

Bahwa itu kandungan di dalam minuman kecil yang sering dijual ibu-ibu bersepeda dari rumah ke rumah?

Atau, soal urusan perut? Susah buang air besar? Sembelit? Pencernaan yang sedang bermasalah?

Nggak salah, sih. Tapi probiotik sebenarnya jauh lebih penting dari itu.

Di dalam tubuh kita, terutama di usus, ada jutaan mikroorganisme yang hidup setiap hari. Yang tidak kelihatan. Tidak juga bersuara. Kecuali selalu bekerja. Tanpa henti.

Makhluk ini membantu mencerna makanan yang kita makan. Menjaga daya tahan tubuh tetap kuat. Membantu tubuh melawan bakteri jahat. Bahkan, ikut memengaruhi suasana hati dan kualitas tidur kita.

Aneh, ya. Sesuatu yang begitu kecil ternyata bisa punya pengaruh sebesar itu.

Sebagian dari penghuni baik itu adalah probiotik.

Probiotik itu bakteri.

Banyak orang mengira semua bakteri itu berbahaya. Kata “bakteri” sering langsung membuat kita membayangkan penyakit, infeksi, atau sesuatu yang kotor. Padahal tidak selalu begitu.

Tidak semua bakteri adalah musuh. Sebagian justru menjadi sahabat yang bekerja diam-diam untuk menjaga tubuh tetap seimbang.

Probiotik adalah salah satunya.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup. Biasanya berupa bakteri seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium. Kadang juga berupa ragi tertentu. Jika dikonsumsi dalam jumlah cukup, probiotik bisa memberi manfaat bagi kesehatan.

Probiotik tentunya bukan bakteri sembarangan. Probiotik harus aman. Harus mampu melewati asam lambung dan tetap aktif saat sampai di usus.

Di sana tempat probiotik bekerja.

Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri di dalam usus. Mereka membantu bakteri baik tetap kuat. Juga menghambat bakteri jahat agar tidak berkembang terlalu banyak.

Bayangkan saja seperti sebuah kota.

Di kota itu, ada penduduk baik dan penduduk yang suka membuat masalah. Kalau penduduk baik lebih banyak, kota menjadi aman. Kalau yang bermasalah lebih banyak, kekacauan mulai muncul.

Begitu juga dengan usus kita.

Saat probiotik cukup, sistem pencernaan bekerja lebih baik. Tubuh lebih mudah menyerap vitamin dan mineral. Buang air besar menjadi lebih teratur. Perut juga terasa lebih nyaman.

Probiotik juga membantu sistem imun.

Sebagian besar pertahanan tubuh kita ada di usus. Jadi kalau usus sehat, daya tahan tubuh biasanya ikut lebih baik. Tubuh tidak mudah terserang infeksi. Risiko gangguan seperti alergi juga bisa lebih rendah.

Yang menarik, usus juga punya hubungan dengan otak.

Ada yang disebut gut-brain axis. Hubungan ini membuat kesehatan usus bisa memengaruhi suasana hati. Bakteri baik membantu proses yang berhubungan dengan serotonin, zat yang memengaruhi rasa nyaman dan bahagia.

Karena itu, usus yang sehat sering dikaitkan dengan mood yang lebih stabil, tidur yang lebih baik, dan stres yang lebih rendah.

Lalu apa yang terjadi kalau probiotik berkurang?

Keseimbangan di usus mulai terganggu. Kondisi ini disebut dysbiosis.

Penyebabnya sering sederhana. Terlalu sering minum antibiotik. Kurang makan serat. Terlalu banyak gula. Kurang tidur. Stres berkepanjangan. Merokok. Atau pola hidup yang berantakan.

Gejala yang paling sering muncul biasanya gangguan pencernaan.

Perut terasa kembung. Diare datang bergantian dengan sembelit. Sering buang angin. Atau muncul rasa tidak nyaman setelah makan.

Tubuh juga bisa terasa lebih mudah lelah. Tidur menjadi kurang nyenyak. Mood naik turun tanpa alasan yang jelas.

Kadang orang menganggap itu hal biasa. Padahal bisa jadi usus sedang memberi tanda.

Kabar baiknya, probiotik bisa didapatkan dari makanan sehari-hari.

Yogurt adalah salah satunya. Begitu juga kefir. Tempe juga termasuk sumber probiotik yang sangat baik. Kimchi, tape, dan minuman susu fermentasi juga bisa membantu.

Selain probiotik, tubuh juga butuh prebiotik.

Prebiotik adalah makanan untuk bakteri baik. Sumbernya ada pada pisang, apel, bawang putih, oatmeal, dan sayuran hijau.

Kalau probiotik adalah pekerjanya, prebiotik adalah makanannya.

Keduanya harus berjalan bersama.

Menjaga kesehatan usus sebenarnya tidak rumit. Tidak harus mahal. Tidak perlu mengikuti semua tren kesehatan yang sedang viral.

Kadang, perubahan kecil sudah cukup.

Makan lebih banyak serat. Menambah makanan fermentasi. Tidur lebih teratur. Mengurangi stres. Dan menjaga pola hidup yang lebih seimbang.

Karena sering kali, kesehatan tubuh dimulai dari tempat yang paling jarang kita perhatikan.

Yaitu usus kita sendiri.